
Bima – Program Kuliah Kerja Nyata (KKN) semestinya tidak hanya diukur dari banyaknya kegiatan yang terlaksana selama masa pengabdian, tetapi juga dari sejauh mana program tersebut mampu meninggalkan manfaat yang terus hidup di tengah masyarakat. Hal inilah yang tercermin dari keberlangsungan Tim Marawis Desa Kalajena, Kecamatan Wera, Kabupaten Bima.
Pada Selasa (8/7/2026), tim marawis tersebut kembali tampil mengiringi prosesi akad nikah dan walimatul ursy salah seorang warga. Penampilan kali ini terasa istimewa karena melibatkan mahasiswa KKN STIT Sunan Giri Bima yang sedang melaksanakan pengabdian di desa tersebut. Kolaborasi ini bukan sekadar mengisi rangkaian acara pernikahan, tetapi menjadi simbol bahwa hubungan antara kampus dan masyarakat dapat terus terjalin melalui kegiatan yang memberi nilai positif.
Di tengah arus modernisasi, keberadaan kelompok marawis menjadi ruang penting untuk menjaga tradisi keagamaan sekaligus membangun karakter generasi muda. Tabuhan rebana dan lantunan selawat bukan hanya menghadirkan suasana religius, tetapi juga menjadi media pembelajaran tentang disiplin, kerja sama, dan kecintaan terhadap budaya Islam yang telah lama tumbuh di tengah masyarakat Bima.
Yang menarik, Tim Marawis Desa Kalajena merupakan hasil pembinaan yang dirintis melalui program KKN STIT Sunan Giri Bima pada tahun sebelumnya. Setelah mahasiswa menyelesaikan masa pengabdiannya, kelompok tersebut tidak berhenti begitu saja. Para pemuda desa justru melanjutkan latihan secara mandiri di bawah pembinaan Wahyudin, S.Pd., hingga kini rutin tampil dalam berbagai kegiatan keagamaan dan kemasyarakatan.
Keberlanjutan inilah yang sesungguhnya menjadi ukuran keberhasilan sebuah program pengabdian. KKN tidak lagi dipandang sebagai kegiatan yang selesai ketika mahasiswa kembali ke kampus, tetapi mampu melahirkan inisiatif masyarakat yang terus berkembang secara mandiri.
Ketua Tim Marawis Desa Kalajena, Wahyudin, S.Pd., mengaku bersyukur dapat kembali berkolaborasi dengan mahasiswa KKN STIT Sunan Giri Bima. Menurutnya, kehadiran mahasiswa memberikan semangat baru bagi para anggota tim untuk terus meningkatkan kemampuan sekaligus memperluas ruang kreativitas generasi muda desa.
Sementara itu, mahasiswa KKN STIT Sunan Giri Bima juga mengaku memperoleh pengalaman berharga melalui kolaborasi tersebut. Bagi mereka, tampil bersama masyarakat bukan hanya menjadi bagian dari pelaksanaan program kerja, tetapi juga kesempatan untuk belajar membangun komunikasi, kebersamaan, dan rasa memiliki terhadap lingkungan tempat pengabdian.
Kolaborasi semacam ini layak menjadi contoh bahwa pembangunan masyarakat tidak selalu dimulai dari program-program besar. Aktivitas sederhana yang melibatkan masyarakat secara langsung justru sering kali melahirkan dampak yang lebih bertahan lama karena tumbuh dari kebutuhan dan kesadaran bersama.
Ke depan, sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah desa, dan masyarakat diharapkan terus diperkuat agar berbagai program pengabdian mampu melahirkan ruang-ruang pembinaan yang produktif. Dengan demikian, kampus tidak hanya hadir sebagai pusat pendidikan, tetapi juga sebagai mitra masyarakat dalam membangun kehidupan sosial, budaya, dan keagamaan yang berkelanjutan.